Piodalan, Melaspas, dan Mapadagingan di Puri Gangga Resort: Menjaga Keharmonisan dan Kesucian dalam Tradisi Bali

Piodalan, Melaspas, dan Mapadagingan di Puri Gangga Resort: Menjaga Keharmonisan dan Kesucian dalam Tradisi Bali

 

Pada tanggal 14 hingga 16 Oktober 2025, Puri Gangga Resort menggelar rangkaian upacara sakral yang penuh makna, sekaligus menandai selesainya pembangunan lima villa baru di kawasan resort. Kegiatan ini bukan hanya sekadar acara seremonial, melainkan sebuah proses spiritual yang melibatkan seluruh elemen kehidupan masyarakat Bali, mengusung nilai-nilai luhur Tri Hita Karana—keharmonisan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama manusia (Pawongan), serta manusia dengan lingkungan (Palemahan).

 

Hari Pertama: Upacara Nunas Tirta

Nunas Tirta di Pura Kahyangan Tiga dan Pura Melanting

Rangkaian upacara diawali pada pagi hari tanggal 14 Oktober dengan pelaksanaan Nunas Tirta di Pura Kahyangan Tiga dan Pura Melanting. Prosesi penyiraman air suci ini dipimpin oleh Jro Nyarikan Semadi sebagai simbol penyucian dan perlindungan dari segala halangan serta energi negatif. Nunas Tirta ini menjadi fondasi spiritual yang menyucikan area dan mempersiapkan tempat agar siap menerima rangkaian upacara berikutnya.

 

Hari Kedua: Maturan, Mecaru, Mapadagingan, dan Melaspas – Puncak Kesakralan

Maturan dan Nunas Tirta di Pura Gunung Kawi

Pada tanggal 15 Oktober menjadi hari puncak rangkaian upacara. Pagi harinya dimulai dengan Maturan dan Nunas Tirta di Pura Gunung Kawi, sebagai ungkapan penghormatan dan permohonan keselamatan kepada para dewa dan leluhur agar seluruh rangkaian upacara serta warga yang terlibat diberkahi dan dilindungi.

Upacara Mecaru

Setelah itu, prosesi Mecaru dilaksanakan sebagai upacara pembersihan dan penetralan energi negatif. Mecaru merupakan ritual penting yang melibatkan lima unsur alam: tanah, air, api, udara, dan ether, berperan menjaga keharmonisan dan keseimbangan lingkungan serta makhluk hidup di sekitarnya.

Prosesi Mapadagingan

Selanjutnya, Mapadagingan berlangsung, di mana lima orang staf khusus mengambil bahan sesaji dengan penuh khidmat, turut membawa keris sebagai simbol kekuatan spiritual dan perlindungan. Mapadagingan bukan sekadar pengambilan bahan, tetapi mencerminkan kerja sama, ketulusan, dan penghormatan mendalam terhadap alam dan leluhur.

Upacara Melaspas

Setelah itu, dilakukan ritual Melaspas, yaitu penyucian dan pemberkatan bangunan baru. Upacara ini dimaksudkan agar villa-villa baru bebas dari pengaruh buruk dan dapat memberikan manfaat serta kenyamanan bagi penghuninya. Melaspas menandai awal siklus kehidupan bangunan yang harmonis dengan lingkungan dan semesta.

 

Seni Tradisional sebagai Wadah Penguatan Spiritual dan Budaya

Selain rangkaian ritual, acara juga diwarnai oleh pertunjukan seni tradisional Bali yang kaya makna. Penampilan seperti Tri Pendet, Rejang, Wayang Kulit, dan Baris Topeng bukan sekadar hiburan, melainkan ungkapan bakti dan penghormatan kepada para dewa dan leluhur.

Tari Pendet

Sebagai tarian pembuka yang sakral, melambangkan penyucian dan harapan akan kedamaian.

Tari Rejang

adalah tarian persembahan yang dilakukan oleh para wanita muda sebagai wujud pengabdian dan rasa hormat.

Wayang Kulit

Menyajikan kisah-kisah epik yang sarat nilai moral dan filosofi hidup.

Baris Topeng

Melambangkan keberanian dan perlindungan spiritual untuk menjaga keharmonisan masyarakat.

Melalui seni, nilai-nilai Tri Hita Karana semakin mengakar dalam kehidupan sehari-hari, mempererat hubungan manusia dengan aspek spiritual dan sosial.

 

Hari Ketiga: Panyineban – Penyempurnaan dan Pelepasan Energi Negatif

Rangkaian upacara diakhiri pada tanggal 16 Oktober dengan prosesi Panyineban, yang kembali dipimpin oleh Jro Nyarikan Semadi. Panyineban berfungsi sebagai pembersihan terakhir, melepas sisa-sisa energi negatif yang mungkin masih tersisa agar seluruh rangkaian upacara benar-benar selesai dengan baik.

Prosesi ini menyempurnakan siklus piodalan dan melaspas yang telah dilakukan, sehingga tempat dan jiwa yang terlibat siap menjalani kehidupan baru yang penuh berkah dan harmoni.

 

Menjaga Tradisi, Menyambut Masa Depan

Rangkaian upacara Piodalan, Melaspas, Mecaru, dan Mapadagingan di Puri Gangga Resort adalah bukti nyata penghormatan masyarakat Bali terhadap nilai spiritual dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui penghormatan kepada Tuhan, alam, dan sesama manusia, filosofi Tri Hita Karana ditegakkan dengan sungguh-sungguh.

Lebih dari sekadar seremoni, upacara ini mengingatkan kita bahwa pembangunan fisik tanpa pembangunan spiritual dan sosial tidak akan menghasilkan kehidupan yang seimbang dan bahagia. Puri Gangga Resort menunjukkan komitmen kuat untuk melestarikan tradisi sekaligus merangkul modernitas.

Semoga keberkahan dan keharmonisan selalu mengiringi setiap langkah di Puri Gangga Resort, dan budaya Bali tetap lestari untuk generasi mendatang.

Share this post

Explore Other Blogs

Gangga Upanayana staff gathering session with Puri Gangga Resort team in a learning and discussion forum

Gangga Upanayana: The Learning Center of Gangga Group

Travelers exploring traditional village life in Sebatu near Ubud Bali

Sebatu Village: Discover Bali’s Hidden Cultural Gem Near Ubud

Tri Hita Karana: The Balinese Philosophy of Harmony in Bali